Nusa Safety, PT Nusa Rendra Jayatama

SHE Analytic

Analisis potensi insiden dengan Incident Cause Analysis Method

PT Masmindo Dwi Area Proyek Awak Mas
Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan

PT Masmindo Dwi Area, Proyek Awak Mas, Kabupaten Luwu
Disusun oleh Nusa Safety, PT Nusa Rendra Jayatama
Penyusun: M Azhuari dan M Reza Huzain, SKM, MKKK
Lompat ke konten utama
Nusa Safety

SHE Analytic

Analisis potensi insiden dengan Incident Cause Analysis Method

PT Masmindo Dwi Area Proyek Awak Mas, Kabupaten Luwu PT Masmindo Dwi Area
 
 

Filter berlaku di semua tab. Skor, pengelompokan temuan, dan proyeksi jenis kejadian dihitung ulang di peladen setiap kali filter berubah.

Keluaran utama

Tiga area dengan skor tertinggi

Skor dihitung per temuan unik, lalu dijumlahkan pada area yang sama
Elemen analisis

Bagan empat elemen dan proyeksi kejadian

Tren

Laporan bahaya per bulan

Arahkan kursor ke batang untuk melihat angka
Tabel peringkat

Akumulasi skor seluruh area kerja

Klik judul kolom untuk mengurutkan, klik baris untuk merinci

Densitas adalah skor rata rata per temuan unik. Densitas tinggi pada area dengan sedikit temuan menandakan temuan yang lama terbuka atau berulang, dan biasanya lebih mendesak daripada area dengan banyak temuan ringan.

Matriks

Sebaran skor menurut area kerja

Pareto

Pemusatan beban pada sedikit faktor

Uraian

Rincian tiga area prioritas

Antrean kerja

Temuan yang menunggu klarifikasi pengawas

Diurutkan menurut skor, temuan terberat lebih dahulu
Mengapa temuan berhenti di sini. ICAM membedakan kekeliruan dari pelanggaran, dan pembedaan itu menuntut klarifikasi dengan pekerja. Dua pertanyaan sudah cukup: apakah pekerja mengetahui aturan yang berlaku, dan apakah sarana untuk mematuhinya tersedia saat itu. Klarifikasi dilakukan tanpa nada menyalahkan, tujuannya memahami keadaan kerja.
Pemantauan

Temuan terbuka dan tenggatnya

Klik baris untuk menetapkan penanggung jawab, tenggat, dan penutupan
Kinerja

Penutupan menurut departemen

Mutu perbaikan

Sebaran hirarki pengendalian

Formulir

Tambah temuan baru

Pekerjaan memiliki izin kerja
Dua isian klarifikasi hanya untuk temuan perilaku.
Berkas

Muat dan unduh data

Nama kolom dikenali otomatis dalam dua bahasa. Kolom tambahan yang dikenali: Izin Kerja, Tahu Aturan, Sarana Tersedia, PIC, dan Jatuh Tempo.

Basis data

Seluruh laporan bahaya

Perbandingan

Dua periode berdampingan

Partisipasi

Jumlah pelapor berbeda per bulan

Cetak

Laporan bulanan siap cetak

Menyiapkan seluruh tab dalam satu halaman berurutan, siap dicetak atau disimpan sebagai PDF untuk rapat bulanan keselamatan. Filter yang sedang aktif ikut diterapkan.

Jejak audit

Riwayat perubahan terakhir

Kapan tab ini dipakai. Daftar area kerja, departemen, dan personel menjadi acuan seluruh daftar pilihan pada formulir temuan. Bila situs memulai tanpa data sekunder, yaitu tanpa berkas laporan bahaya yang sudah ada, susun ketiga daftar di sini lebih dahulu. Pengisian temuan akan jauh lebih cepat dan penulisan lokasi tidak lagi beragam.
Langkah

Urutan penyiapan data induk

  1. Kelompok dan area kerja. Susun sampai tingkat sub area. Hindari label payung yang mencakup banyak fasilitas berbeda, karena membuat peringkat prioritas mencerminkan volume laporan, bukan tingkat risiko.
  2. Departemen. Bedakan departemen internal dari kontraktor. Pembedaan ini dipakai mesin analisis untuk menambahkan faktor organisasi manajemen kontraktor.
  3. Personel. Diperlukan agar temuan memiliki penanggung jawab perorangan, bukan sekadar nama departemen.
  4. Temuan. Setelah ketiganya terisi, pengisian temuan dilakukan pada tab Data dan Input.
Formulir

Tambah data induk

Daftar

Daftar tersimpan

Tampilkan yang dinonaktifkan
Mulai dari nol

Mode data mandiri

Aplikasi ini terpasang beserta 760 laporan bahaya sebagai contoh. Bila situs Anda ingin memulai dari catatan sendiri, kosongkan seluruh temuan lebih dahulu. Tindakan ini tidak dapat dibatalkan, jadi unduh data terlebih dahulu bila masih diperlukan.

Kosongkan juga area, departemen, dan personel
Hanya administrator yang berwenang.
Kerangka

Dasar pemikiran

Aplikasi ini memakai Incident Cause Analysis Method, kerangka investigasi yang dikembangkan di lingkungan BHP pada akhir dekade 1990-an dan bertumpu pada model kecelakaan organisasi Reason. ICAM menyusun seluruh faktor penyumbang ke dalam empat elemen: pertahanan yang tidak ada atau gagal, tindakan individu atau tim, kondisi tugas dan lingkungan, serta faktor organisasi.

ICAM lazim dipakai setelah insiden terjadi, sedangkan data yang tersedia berupa laporan observasi bahaya dan inspeksi. Laporan semacam itu berdiri di tiga elemen tingkat titik kerja. Dari sana penelusuran ditarik ke faktor organisasi, lalu diproyeksikan ke jenis kejadian yang berpotensi timbul bila temuan dibiarkan.

Pembedaan antara kekeliruan dan pelanggaran menuntut bukti wawancara, dan laporan observasi tidak menyediakannya. Temuan tanpa petunjuk yang cukup karena itu ditandai perlu verifikasi, bukan dipaksakan masuk kategori pelanggaran. Menyimpulkan pelanggaran tanpa klarifikasi bertentangan dengan prinsip dasar ICAM.

Keluaran aplikasi ini adalah peringkat prioritas berbasis bukti pelaporan, bukan probabilitas statistik kecelakaan. Skor bersifat ordinal: dapat dibandingkan antar area pada periode yang sama, tidak dapat dibaca sebagai peluang kejadian dalam satuan waktu.

Parameter

Rubrik penilaian

Perubahan tersimpan di basis data dan tercatat pada jejak audit
Hanya peran administrator yang berwenang mengubah rubrik.
Pustaka

Kata kunci klasifikasi

Langsung dipakai mesin analisis tanpa perlu memuat ulang.
Sebaran

Penempatan temuan pada elemen ICAM

Kamus

Elemen 1: Pertahanan yang tidak ada atau gagal

Absent or Failed Defences
Kamus

Elemen 2: Tindakan individu atau tim

Individual or Team Actions
Kamus

Elemen 3: Kondisi tugas dan lingkungan

Task or Environmental Conditions
Kamus

Elemen 4: Faktor organisasi

Organisational Factors
Kamus

Klasifikasi jenis kejadian

Rujukan

Daftar pustaka

Badan Standardisasi Nasional. (2018). SNI ISO 45001:2018 Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja: Persyaratan dengan panduan penggunaan. BSN.

BHP Billiton. (2005). ICAM: Incident cause analysis method guideline. BHP Billiton Health, Safety, Environment and Community.

Bird, F. E., & Germain, G. L. (1996). Practical loss control leadership (Rev. ed.). Det Norske Veritas.

Hopkins, A. (2000). Lessons from Longford: The Esso gas plant explosion. CCH Australia.

International Council on Mining and Metals. (2021). Critical control management: Good practice guide (2nd ed.). ICMM.

Keputusan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Nomor 185.K/37.04/DJB/2019 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Keselamatan Pertambangan dan Pelaksanaan, Penilaian, dan Pelaporan Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan Mineral dan Batubara.

Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1827 K/30/MEM/2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Kaidah Teknik Pertambangan yang Baik.

Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 26 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Kaidah Pertambangan yang Baik dan Pengawasan Pertambangan Mineral dan Batubara.

Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja.

Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Ramli, S. (2010). Pedoman praktis manajemen risiko dalam perspektif K3. Dian Rakyat.

Reason, J. (1990). Human error. Cambridge University Press.

Reason, J. (1997). Managing the risks of organizational accidents. Ashgate.

Tarwaka. (2014). Keselamatan dan kesehatan kerja: Manajemen dan implementasi K3 di tempat kerja (Ed. rev.). Harapan Press.

Susunan tiga belas faktor organisasi mengikuti penerapan yang lazim di industri pertambangan. Bila PT Masmindo Dwi Area memiliki daftar baku pada prosedur investigasinya, daftar tersebut yang dipakai, dan penyesuaiannya dilakukan pada pustaka kata kunci serta berkas taksonomi.