Filter berlaku di semua tab. Skor, pengelompokan temuan, dan proyeksi jenis kejadian dihitung ulang di peladen setiap kali filter berubah.
Tiga area dengan skor tertinggi
Skor dihitung per temuan unik, lalu dijumlahkan pada area yang samaBagan empat elemen dan proyeksi kejadian
Laporan bahaya per bulan
Arahkan kursor ke batang untuk melihat angkaAkumulasi skor seluruh area kerja
Klik judul kolom untuk mengurutkan, klik baris untuk merinciDensitas adalah skor rata rata per temuan unik. Densitas tinggi pada area dengan sedikit temuan menandakan temuan yang lama terbuka atau berulang, dan biasanya lebih mendesak daripada area dengan banyak temuan ringan.
Sebaran skor menurut area kerja
Pemusatan beban pada sedikit faktor
Rincian tiga area prioritas
Temuan yang menunggu klarifikasi pengawas
Diurutkan menurut skor, temuan terberat lebih dahuluTemuan terbuka dan tenggatnya
Klik baris untuk menetapkan penanggung jawab, tenggat, dan penutupanPenutupan menurut departemen
Sebaran hirarki pengendalian
Tambah temuan baru
Muat dan unduh data
Nama kolom dikenali otomatis dalam dua bahasa. Kolom tambahan yang dikenali: Izin Kerja, Tahu Aturan, Sarana Tersedia, PIC, dan Jatuh Tempo.
Seluruh laporan bahaya
Dua periode berdampingan
Jumlah pelapor berbeda per bulan
Laporan bulanan siap cetak
Menyiapkan seluruh tab dalam satu halaman berurutan, siap dicetak atau disimpan sebagai PDF untuk rapat bulanan keselamatan. Filter yang sedang aktif ikut diterapkan.
Riwayat perubahan terakhir
Urutan penyiapan data induk
- Kelompok dan area kerja. Susun sampai tingkat sub area. Hindari label payung yang mencakup banyak fasilitas berbeda, karena membuat peringkat prioritas mencerminkan volume laporan, bukan tingkat risiko.
- Departemen. Bedakan departemen internal dari kontraktor. Pembedaan ini dipakai mesin analisis untuk menambahkan faktor organisasi manajemen kontraktor.
- Personel. Diperlukan agar temuan memiliki penanggung jawab perorangan, bukan sekadar nama departemen.
- Temuan. Setelah ketiganya terisi, pengisian temuan dilakukan pada tab Data dan Input.
Tambah data induk
Daftar tersimpan
Mode data mandiri
Aplikasi ini terpasang beserta 760 laporan bahaya sebagai contoh. Bila situs Anda ingin memulai dari catatan sendiri, kosongkan seluruh temuan lebih dahulu. Tindakan ini tidak dapat dibatalkan, jadi unduh data terlebih dahulu bila masih diperlukan.
Dasar pemikiran
Aplikasi ini memakai Incident Cause Analysis Method, kerangka investigasi yang dikembangkan di lingkungan BHP pada akhir dekade 1990-an dan bertumpu pada model kecelakaan organisasi Reason. ICAM menyusun seluruh faktor penyumbang ke dalam empat elemen: pertahanan yang tidak ada atau gagal, tindakan individu atau tim, kondisi tugas dan lingkungan, serta faktor organisasi.
ICAM lazim dipakai setelah insiden terjadi, sedangkan data yang tersedia berupa laporan observasi bahaya dan inspeksi. Laporan semacam itu berdiri di tiga elemen tingkat titik kerja. Dari sana penelusuran ditarik ke faktor organisasi, lalu diproyeksikan ke jenis kejadian yang berpotensi timbul bila temuan dibiarkan.
Pembedaan antara kekeliruan dan pelanggaran menuntut bukti wawancara, dan laporan observasi tidak menyediakannya. Temuan tanpa petunjuk yang cukup karena itu ditandai perlu verifikasi, bukan dipaksakan masuk kategori pelanggaran. Menyimpulkan pelanggaran tanpa klarifikasi bertentangan dengan prinsip dasar ICAM.
Keluaran aplikasi ini adalah peringkat prioritas berbasis bukti pelaporan, bukan probabilitas statistik kecelakaan. Skor bersifat ordinal: dapat dibandingkan antar area pada periode yang sama, tidak dapat dibaca sebagai peluang kejadian dalam satuan waktu.
Rubrik penilaian
Perubahan tersimpan di basis data dan tercatat pada jejak auditKata kunci klasifikasi
Penempatan temuan pada elemen ICAM
Elemen 1: Pertahanan yang tidak ada atau gagal
Absent or Failed DefencesElemen 2: Tindakan individu atau tim
Individual or Team ActionsElemen 3: Kondisi tugas dan lingkungan
Task or Environmental ConditionsElemen 4: Faktor organisasi
Organisational FactorsKlasifikasi jenis kejadian
Daftar pustaka
Badan Standardisasi Nasional. (2018). SNI ISO 45001:2018 Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja: Persyaratan dengan panduan penggunaan. BSN.
BHP Billiton. (2005). ICAM: Incident cause analysis method guideline. BHP Billiton Health, Safety, Environment and Community.
Bird, F. E., & Germain, G. L. (1996). Practical loss control leadership (Rev. ed.). Det Norske Veritas.
Hopkins, A. (2000). Lessons from Longford: The Esso gas plant explosion. CCH Australia.
International Council on Mining and Metals. (2021). Critical control management: Good practice guide (2nd ed.). ICMM.
Keputusan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Nomor 185.K/37.04/DJB/2019 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Keselamatan Pertambangan dan Pelaksanaan, Penilaian, dan Pelaporan Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan Mineral dan Batubara.
Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1827 K/30/MEM/2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Kaidah Teknik Pertambangan yang Baik.
Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 26 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Kaidah Pertambangan yang Baik dan Pengawasan Pertambangan Mineral dan Batubara.
Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja.
Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Ramli, S. (2010). Pedoman praktis manajemen risiko dalam perspektif K3. Dian Rakyat.
Reason, J. (1990). Human error. Cambridge University Press.
Reason, J. (1997). Managing the risks of organizational accidents. Ashgate.
Tarwaka. (2014). Keselamatan dan kesehatan kerja: Manajemen dan implementasi K3 di tempat kerja (Ed. rev.). Harapan Press.
Susunan tiga belas faktor organisasi mengikuti penerapan yang lazim di industri pertambangan. Bila PT Masmindo Dwi Area memiliki daftar baku pada prosedur investigasinya, daftar tersebut yang dipakai, dan penyesuaiannya dilakukan pada pustaka kata kunci serta berkas taksonomi.